7 Cara Terbaik Mengkritik Anak!

Ada bagusnya jika kita mengganti kata mengkritik menjadi memberi masukkan karena kedua kata tersebut mengandung makna yang mirip tetapi energinya jauh lebih positif.

Ada banyak artikel saya yang berkali-kali mengandung kata “memuji anak”, lalu ada salah satu orangtua siswa camp saya yang “memberi masukkan” (jauh lebih enak didengar kan Bapak/Ibu dibandingkan mengkritik hehehehehe). Masukkannya sangatlah bagus sekali dengan mengatakan “Kita harus balance kali yah dalam memuji dan memberi masukkan kepada anak-anak kita, supaya mereka tahu mana yang bisa diimproved dari dirinya.” Saya sangat berterimakasih sekali atas masukkan yang telah diberikan dan kita akan bahas tentang ini dalam artikel kali ini.

Jangan salah mengerti Bapak/Ibu, kalau kita harus selalu memuji mereka tanpa perlu memberi masukkan kepada anak kita, namun ada caranya supaya mereka mau menerimanya dengan baik. Di dalam memberi masukkan kepada anak, saya ada beberapa tips yang praktis dan pasti berhasil, dan saya selalu menggunakan tips ini dalam mendidik anak-anak saya di rumah maupun di camp, yaitu,

  1. Pujilah di depan banyak mata, Tegurlah secara empat mata.

    Selalu Bapak/Ibu jika kita ingin memuji anak-anak kita, lebih baik dilakukan di depan banyak mata, di depan teman dan saudaranya. Dengan demikian mereka akan merasa sangat senang sekali dan semakin ingin berubah. But please hindari memberi masukkan/menegur kepada anak di depan banyak orang, ini akan membuat mereka terluka dan akan shut down terhadap kita.

    Ada banyak orangtua begitu ada temannya memuji anaknya di depannya, orangtuanya malah bilang “Ah kagakkk kok, dia mah nggak begitu, dia mah anaknya malesss bener, udah gitu jorok lagi anaknya, jarang mandi dan yang paling parahnya nilainya hancur soalnya males bener anaknya” dengan harapan anaknya mau berubah selepas mendengar hal tersebut, tetapi bukannya perubahan yang didapatkan orangtua tersebut, malahan anaknya makin menjadi.

  2. Jika anak Anda sudah beranjak remaja, ajaklah anak Anda makan di resto kesukaannya.

    Saya mendapat tips ini dari salah satu orangtua camp saya yang mana anaknya sudah kuliah. Selama ini setiap kali mamanya mau memberi masukkan, selalu diakhiri dengan pertengkaran dengan skala suara 1 RT bisa terdengar, pada akhirnya beliau belajar untuk memberi masukkan dengan mengajak makan anaknya, dengan demikian anaknya akan jauh lebih happy, jika anak kita happy maka akan lebih gampang memberi masukkan, plus di dalam restoran, keduanya bisa lebih menjaga emosi dan etika, karena ada banyak mata disana hahahahahha, masuk akal nih tips?

    Ujung-ujungnya kita akan mendapatkan solusi antara orangtua dan anak. Hal ini juga berlaku bagi anak-anak kita yang sudah beranjak remaja hingga ke dewasa.

  3. Jangan pernah bilang mama benci sama kamu.

    Banyak orangtua yang selalu bilang kepada anaknya setiap terjadi keributan dengan anaknya “Mama benci banget sama kamu, kamu bener-bener mirip sama papa kamu”.

    Please bu, papanya tidak salah dalam hal ini, tolong jangan dibawa-bawa kedalam pertengkaran kita dengan anak kita. Hal ini akan membuat anak kita ikut-ikutan membenci diri mereka sendiri, karena mereka percaya segala perkataan dan tindakan kita kepada mereka. Hal inilah yang menjadi cikal bakal dari rendahnya self esteem mereka, dan self esteem mereka inilah yang menentukan prestasi mereka kelak.

    Yang seharusnya kita katakan adalah “Mama nggak suka sama sikap kamu yang suka menunda-nunda (misalnya)” sehingga mereka tahu kita tidak membenci diri mereka, yang kita nggak suka adalah bukan diri mereka, tetapi sikap mereka, sehingga mereka tahu yang harus dirubah bukan diri mereka tetapi sikap mereka yang harus dirubah. Masuk akal?

  4. Jangan pernah bahas apa yang kurang dari anak kita.


    Pernahkan Anda meeting evaluasi dengan team anda? lalu team Leader mengatakan “Apa yang kurang dari event kita kemarin?” Pertanyaan ini akan membuat sistem dalam tubuh kita kurang semangat untuk menjawabnya, tetapi jika team leader bertanya “Apa yang sudah bagus dari event kemarin?” Lalu dilanjutkan dengan, “Apa yang bisa diimprove dari event kemarin?” tentunya hal ini akan membuat semua anggota menjadi lebih positif dan bersemangat. Hal yang sama juga berlaku untuk anak-anak kita, masuk akal?

    Bahaslah apa yang sudah baik selama ini setelah itu dilanjutkan dengan pertanyaan, kira-kira kalau mama kasih kamu masukkan untuk kamu, kamu mau nggak? Yang pasti 95% anak kita pasti mau, barulah kita lanjutkan dengan, “menurut kamu, apa kira-kira yang bisa kamu improve untuk jadi yang lebih baik?

  5. Jika anak Anda sudah remaja, gunakanlah pertanyaan-pertanyaan yang membuat mereka yang mengambil keputusan.

    Banyak orangtua yang anaknya sudah beranjak remaja yang masih saja menggunakan pernyataan seperti, “pokoknya kamu harus ikutin kata mama, mama tahu yang terbaik untuk kamu”, dan masih banyak lagi lainnya, hal ini kita lakukan tanpa mau mendengar dulu curhatan dari anak kita, sehingga mereka merasa orangtua tidak pernah mau mengerti dan mendengar.

    Hal ini membuat anak mereka menjadi stress dan cenderung mengikuti apapun permintaan orangtua mereka, sampai sekolah dimana, jurusan apa, mereka lebih suka memberikan kepada orangtua untuk diputuskan, tetapi kita berharap mereka untuk menjadi decision maker pada saat mereka dewasa nanti, guess what,

    They will never able to be a great leader.

    Survey mengatakan Remaja saat ini kebutuhan dasarnya adalah mereka mau dimengerti, didengar, dan tidak mau dihakimi (judge). Jika Bapak/Ibu mau membuat anaknya menjadi pembuat keputusan pada saat mereka dewasa nanti, selalu gunakan metode bertanya. Jika memang jawaban dan apa yang mereka mau adalah positif adanya, kita dukung, jika tidak, kita tinggal mengarahkannya kembali, itulah gunanya kita sebagai orangtua. Masuk akal?

  6. Make sure dalam memberi masukkan, mata Anda dengan anak Anda sejajar.

    Banyak orangtua pada saat menegur anak dengan cara tangan dipinggang, nada suara agak tinggi dan sambil bolak balik dan anaknya dalam posisi duduk (hehehehe, apakah betul Bapak/Ibu?). Hal ini tidak akan membuat anak nyaman dan selalu berusaha untuk self defense dan akan “ngeles” supaya terhindar dari amarah orangtua.

    Tidak bisa Bapak/Ibu, jika Bapak/Ibu mau memberi masukkan, make sure mata kita dengan anak kita sejajar sehingga kita mempunyai frekuensi yang sama dan berbicaralah dengan penuh kesabaran dan lembut, niscaya Bapak/Ibu, mereka pun akan mendengar apa yang Bapak/Ibu bicarakan karena otak manusia seperti parasut, hanya bisa bekerja jika terbuka. Masuk akal?

  7. Fokuslah kepada kelebihan atau kesukaan anak untuk improve diri anak.

    Ada salah satu anak, katakanlah namanya Deni, Deni sangat suka dengan sepakbola dan Deni juga hafal betul nama-nama pemain beserta clubnya, namun Deni sangat tidak menyukai pelajaran bahasa inggris dan nilainya selalu jeblok.

    Sudah sering ancaman dan amarah tertuju kepada Deni untuk bisa improve tapi selalu saja gagal.

    Lalu orangtuanya mendapat masukkan dari temannya untuk merubah pola asuhnya dan pada akhirnya berhasil. Mau tahu Bapak/Ibu? Kita saksikan setelah jeda iklan berikut ini hahahahha…

    Pada akhirnya, papanya mengobrol dengan Deni dengan metode bertanya dan mata sejajar dengan anaknya pada waktu break time bermain sepakbola, berikut adalah pembicaraanya,

    A : Den, kamu paling suka sama siapa di dunia sepakbola?

    D : Wuahhh, papa ngak tau yah, aku mah paling suka sama Beckham pah!

    A : Wuahh kerenn! Kamu mau nggak suatu saat nanti bisa ngobrol dengan Beckham?

    D: Wuahhh mau donk pah, aku mau dapet tips dari dia bagaimana bermain bola yang keren!

    A : OK, papa janji papa akan cari email atau twitter Beckham supaya kamu bisa tanya-tanya yah…

    D : Serius pah? Beneran nih? Janji yahh? Wuahhh aku jadi seneng banget! Aku sayang sama papa!

    A : Papa juga sayang sama kamu. Eh tapi Den, si Beckham bisa bahasa Indonesia atau bahasa inggris yah? Kamu bisa bahasa inggris?

    D : ????!!!$$$**** iya yah… Beckham ngak bisa bahasa Indonesia

    A : Jadi bagaimana donk?

    D : hmmm…. (Terdiam sejenak, tanda lagi mikir) kalau begitu, Deni harus belajar bahasa inggris dong, supaya Deni bisa ngobrol dengan Beckham.

    Kira-kira apa yang terjadi selanjutnya?

    YES Bapak/Ibu! Deni akan belajar bahasa inggris tanpa perlu disuruh dan diminta, karena dia punya tujuan di balik itu semua.

    Jika anak kita punya tujuan, maka dia akan mengerti kenapa harus belajar, kenapa harus buat PR, dan mereka akan melakukannya tanpa harus diminta. Masuk akal?

Semoga bermanfaat!

Salam Mantap,
Rudy Ng,
Founder & Master Trainer Rudy Ng Academy
www.RudyNgAcademy.com

Post by

Related Post!

Bagikan jika Anda rasa artikel ini bermanfaat
supaya banyak orang yang dapat merasakan manfaatnya!

Share on facebook
Facebook
Share on twitter
Twitter
Share on whatsapp
WhatsApp

Contact us!

Dapatkan tips parenting Gratis
supaya lebih nyambung dengan anak!
Silahkan isi email Anda untuk mendapatkan tips lainnya!
©2021 Rudy Ng Academy
Digital Marketing By Active Funnel
Dapatkan tips parenting Gratis
supaya lebih nyambung dengan anak!
Silahkan isi email Anda untuk mendapatkan tips lainnya!