Kategori: Tips Menghadapi Anak yang Kecanduan Gadget

  • “ANAK SAYA CITA-CITA YOUTUBER!”

    “ANAK SAYA CITA-CITA YOUTUBER!”

    Pada suatu pagi, tiba-tiba anak saya yang ketiga yang berusia 9 tahun, datang menghampiri saya dan berkata, “Pi, I wanna be a YouTuber” sontak saja saya kaget dengan pernyataan anak saya yang bungsu ini.

    Pada awalnya saya tidak bisa menerima permintaan ini, dan langsung membuat raut wajahnya menjadi sedih dan tidak bersemangat. Setelah beberapa lama saya renungkan, pada akhirnya saya kembali memanggil anak saya yang bungsu ini dan kembali menanyakan tentang permintaannya untuk menjadi seorang YouTuber. Dengan wajah yang masih kesal dan down, anak saya ini berkata “No, i don’t wanna be a YouTuber anymore, because you don’t want me to become that” lalu saya sambil menenangkan anak ini dan saya berjanji akan mendengarkan tanpa menghakimi dan memotong pembicaraan tentang cita-citanya ini.

    Lalu anak saya ini kembali bercerita tentang cita-citanya dan betapa banyak orang yang bisa menjadi hebat dan memiliki subscriber banyak di YouTube. Dan kebetulan memang anak saya ini sangatlah extrovert dan sangat suka mengomentari apapun yang dilihatnya dan sangat suka vlogging dengan menggunakan gadget yang dia pinjam dari saya atau dari kakaknya. Dan anak ini juga sangat suka tantangan dan petualangan, bahkan bersepeda di dalam komplek rumah saya pun dia akan selalu meminjam gadget untuk merekam berbagai kejadian yang terjadi.

    Banyak dari kita sebagai orangtua, hanya mau mendengar apa yang ingin kita dengar dan hanya ingin melihat apa yang ingin kita lihat,

    oleh karena itulah kita cenderung emosi dan cenderung tidak sependapat setiap kali kita mendengar dan melihat apa yang kita tidak inginkan, tanpa mendengarkan anak terlebih dahulu.

    Seringkali, anak-anak kita tidak membutuhkan solusi dari kita sebagai orangtuanya, mereka hanya membutuhkan kedua telinga dan perhatian kita untuk mendengarkan mereka dengan penuh ketertarikan, karena mereka bisa melihat dan merasakan apakah kita tertarik atau tidak dengan apa yang mereka bicarakan.

    Anak kita hidup di jaman yang sudah berbeda dengan jaman pada saat kita dibesarkan. Coba kita lihat, berapa banyak pekerjaan yang sudah hilang pada saat ini, dan berapa banyak pekerjaan baru yang lahir pada saat ini, mereka yang kaya dan hebat bukan lagi milik para dokter dan insinyur, tetapi apapun profesinya bisa mendatangkan banyak uang jika memang mereka lakukan dengan cinta dan ketekunan.

    Yang saya minta dari Bapak/Ibu adalah dengarkan mereka saja terlebih dahulu, dan buatlah mereka memiliki tujuan dan bagaimana cara mencapainya. Bantulah mereka dalam membuat account di YouTube dan bantulah mereka untuk bagaimana cara merekam dan meng-upload-nya di YouTube, bagaimana cara mengedit video, dan hal-hal lainnya. Kita tidak akan pernah tahu apa saja pelajaran dan new skills yang mereka bisa dapatkan karena adanya tujuan itu. Karena jika kita punya tujuan dalam benak kita, entah mengapa kita akan selalu punya kekuatan dalam tindakan kita. Masuk akal kan ya?

    Sekali lagi kita tidak akan pernah tahu apakah hal ini bisa sukses atau tidak, kecuali kita mencobanya bukan? 

    Masih teringat dengan jelas, Justin Bieber bisa terkenal dimulai dari mamanya Justin Bieber meng-upload video anaknya yang sedang berjoget dan bernyanyi di YouTube, dan tiba-tiba video ini meledak dan disukai oleh banyak orang di dunia ini. Sekali lagi kita tidak akan pernah tahu sebelum kita mencobanya, ya kan? Lagian, tanpa mereka jadi YouTuber, mereka akan tetap main gadget bukan? Daripada hobby-nya ini tidak tersalurkan, lebih baik kita coba dukung cita-citanya. Tapi yang perlu diingat adalah kita tetap harus membatasi jadwal mereka bermain ya Bapak/Ibu, karena mereka tetap harus membagi waktunya antara sekolah, bermain di luar sebagaimana layaknya anak-anak.

    Jika ada yang ingin ditambahkan atau ditanyakan, silahkan comment di bawah ya!

  • 6 TIPS MENGATASI KECANDUAN GADGET PADA ANAK

    6 TIPS MENGATASI KECANDUAN GADGET PADA ANAK

    Hidup di jaman sekarang, tak jarang ada orangtua yang mengeluh anaknya kecanduan gadget baik itu televisi, telepon genggam, sampai tablet. Padahal kecanduan akut terhadap gadget pada anak-anak dapat merusak kesehatan mereka, baik fisik maupun mental. Efek merusaknya dalam beberapa hal bisa sama seperti kecanduan alkohol atau NARKOBA. Penelitian yang dilakukan British Heart Foundation (BHF), menunjukkan bahwa hanya 1 dari 10 balita ‘generasi iPad’ yang cukup aktif untuk bisa dikategorikan sehat. Namun bukan berarti anak harus dihindarkan sepenuhnya dari gadget. Bagaimanapun teknologi tetap memiliki peran dalam membantu perkembangan anak, asalkan kita tahu batasannya.

    Lantas bagaimana kita tahu anak sudah kecanduan gadget?

    Ciri-ciri anak kecanduan gadget:

    • Penggunaan gadget secara terus-menerus diiringi berkurangnya minat untuk bersosialisasi,
    • selalu meminta diberikan gadget. Jika tidak diberi, anak akan mengamuk,
    • tidak mau beraktivitas di luar rumah. Misalnya bersikeras meminta pulang agar bisa bermain game di rumah,
    • menolak melakukan rutinitas sehari-hari dan lebih memilih bermain gadget. Seperti tidak mau disuruh tidur atau mandi.

    Jadinya kita sebagai orangtua mesti bagaimana donk? Yuk kita simak 6 Tips mengatasi kecanduan gadget pada anak.

    1. Membatasi penggunaan gadget

      Batasi penggunaan gadget sesuai dengan rekomendasi kelompok umurnya. The American Academy of Pediatrics (2013) dan Canadian Pediatric Society (2010) telah menerbitkan pedoman screen time seperti berikut ini:
      • Anak-anak di bawah usia 2 tahun: sebaiknya tidak dibiarkan bermain gadget sendirian, termasuk TV, smartphone dan tablet.
      • Anak-anak usia 2 sampai 4 tahun: kurang dari satu jam sehari.
      • Usia 5 tahun ke atas: sebaiknya tidak lebih dari dua jam sehari untuk penggunaan rekreasional (di luar kebutuhan belajar).

    1. Beri jadwal

      Jadwalkan waktu yang tepat untuk bermain gadget. Di luar itu, orangtua juga harus menyiapkan kegiatan alternatif lainnya agar anak tidak bosan dan beralih ke gadget lagi.

    2. Jangan beri akses penuh

      Letakkan tv atau komputer di ruang keluarga sehingga setiap anak menggunakannya, dia tidak sendirian, dan masih dalam pengawasan anggota keluarga lainnya. Selain itu perangkat mobile juga sebaiknya tidak diserahkan pada anak sepenuhnya. Biarkan anak meminta izin terlebih dahulu jika ingin menggunakannya, dan ambil kembali setelah selesai.

    3. Tetapkan wilayah-wilayah bebas gadget

      Buat peraturan tidak boleh menggunakan gadget di tempat-tempat tertentu. Misalnya di meja makan, di kamar tidur, dan di mobil.

    4. Ajarkan anak pentingnya menahan diri

      Pastikan untuk memberikan pujian pada anak ketika ia berhasil menahan diri untuk tidak bermain game dan mengikuti aturan yang telah ditetapkan.

    5. Berikan contoh yang baik

      Sudah jadi pengetahuan umum bahwa anak meniru apa yang dilakukan orangtuanya. Untuk itu, parents juga harus menjadi contoh yang baik, letakkan HP dan bermainlah bersama si kecil.

    Nah demikianlah 6 tips mengatasi kecanduan gadget pada anak.

  • ORANGTUA WAJIB TAHU : KENAPA ANAK SELALU GADGETAN

    ORANGTUA WAJIB TAHU : KENAPA ANAK SELALU GADGETAN

    Apa yang dilakukan anak Anda sekarang? Coba cek di kamarnya sekarang. Sebagian besar dari Bapak/Ibu pasti akan menjawab, “Lagi gadgetan” entah itu bermain game atau social media. Nah sekarang yang menjadi pertanyaannya adalah, kenapa anak selalu gadgetan? Setidaknya ada 6 alasan utama kenapa anak selalu tertarik untuk melihat gadgetnya, seakan-akan gadgetnya itu selalu memanggil-manggil diri mereka setiap kali mereka hanya tergeletak di meja.

    Inilah 6 alasannya yang ortu wajib tahu :

    1. Mager / PW

      Kalau anak kita sudah merasa PW (baca: Posisi Wuenak), mereka menjadi Mager (Malas Gerak) apalagi semua fasilitas ada di kamar mereka masing-masing seperti Wi-Fi, kasur yang empuk, bantal, guling, selimut, dan AC yang dingin, plus ada colokan dan chargernya, membuat mereka jadi betah di kamar mereka masing-masing sambil gadgetan.

    2. Gabut dan Bosen

      Kalau anak kita sudah merasa gabut (baca: ngak ada kerjaan), mereka pasti akan melirik gadget-nya mereka, seakan-akan gadgetnya memanggil-manggil nama mereka untuk dimainkan hehehe…

    3. Nggak tahu mau ngapain lagi

      Kalau anak kita sudah merasa nggak tahu mau ngapain lagi, pasti panggilan untuk memainkan gadget dijamin akan kuat, dan sebagian besar dari mereka pasti nggak akan kuat akan godaan ini.

    4. Zona nyaman

      Nah zona nyaman inilah yang membuat mereka jadi seakan-akan tidak mempunyai motivasi lagi untuk melakukan sesuatu yang bermanfaat bagi hidup mereka. Hal-hal yang selalu membuat mereka selalu maunya berada di zona nyaman, seperti lahir dari keluarga yang berkecukupan, orangtua selalu ‘ada’ dan ‘melindungi’ diri mereka, semua yang mereka inginkan selalu bisa didapatkan dengan mudah. Maka dari itu, banyak anak orang kaya hanya bisa menjadi generasi penikmat, dan mereka terkenal sekali dengan generasi instan dan tidak mau susah dan sebagian besar dari mereka langsung kabur/menghindari masalah.

    5. Orangtua juga sibuk dengan pekerjaan dan urusannya masing-masing.

       

      Kalau kita sebagai orangtua juga sudah sibuk dengan pekerjaan kita dan juga karena kita tidak ingin diganggu oleh mereka, jadinya kita memberikan mereka toleransi dan solusi dengan memperbolehkan mereka untuk bermain gadget.

    6. Tidak adanya alternatif kegiatan yang sama serunya atau bahkan lebih seru daripada bermain gadget.

       

      Kita sangat membutuhkan ide-ide untuk mengalihkan perhatian mereka dari gadget ke aktivitas lainnya yang sama seru atau bahkan lebih seru seperti membelikan mereka anak anjing, kucing, atau hewan peliharaan lain yang mereka sukai.

    Sebetulnya, anak-anak kita pun ‘SADAR’ jika mereka sudah terlalu banyak menghabiskan waktu dengan selalu melihat gadgetnya, tapi mereka terjebak di 6 alasan diatas.

    Jadi apa solusinya donk? Yuk kita bongkar bersama :

    1. Mager / PW

      Jangan biasakan selalu memberikan fasilitas berlebih kepada anak-anak kita, sehingga mereka mager.

      Contohnya, jangan pernah menempatkan TV lengkap dengan console game (PS) di kamar mereka. Taruhlah TV di ruang keluarga, jaringan Wi-Fi hanya ada di ruang keluarga (tidak sampai ke kamar mereka) sehingga mereka tidak akan selalu ‘nongkrong’ di kamar mereka masing-masing karena anak jaman now, mereka bisa hidup hanya dengan gadget di tangan dan yang penting ada colokan.

    2. Gabut dan Nggak tahu mau ngapain lagi.

      Jangan biarkan mereka merasa gabut, sebisa mungkin kita harus mencarikan mereka kegiatan, seperti bersepeda bersama, main catur bersama, main UNO, memancing bersama, dan aktivitas lainnya yang mereka sukai.

      Nah untuk hal ini, bisa Bapak/Ibu baca di no 5.

    3. Zona nyaman

      Orangtua jaman sekarang adalah orangtua yang ‘sangat baik’ untuk anak-anak mereka, mengapa? Karena kita selalu berusaha dengan sekuat tenaga memberikan apa yang mereka inginkan dan apa yang mereka butuhkan, tapi ini juga bisa menjadi jebakan batman karena telalu membuat anak merasa nyaman sehingga mereka tidak akan mau melakukan sesuatu yang mereka anggap kurang nyaman atau kurang bisa.

      Saya hanya mau mengatakan,

      “Sometimes to be CRUEL is to be KIND”

    4. Orangtua juga sibuk dengan pekerjaan dan urusannya masing-masing.

      Sesibuk apapun diri kita, sebisa mungkin selalu luangkan waktu untuk anak-anak kita. Saya tidak peduli apakah kita adalah seorang direktur, manajer, atau seorang janitor sekalipun, begitu kita sampai di rumah, kita adalah seorang ayah dan ibu. Tinggalkanlah pekerjaan dan gadget Anda, dan mengobrollah dengan anak-anak kita tentang apa saja yang telah dilaluinya di hari itu.

    5. Tidak adanya alternatif kegiatan yang sama serunya atau bahkan lebih seru daripada bermain gadget.

      Nah untuk yang ini, kita harus cari tahu minat dan bakat mereka supaya kita bisa membuat perhatian mereka beralih dari gadget menuju ke aktivitas lain yang sesuai dengan bakat dan minat mereka. Dijamin kalau Bapak/Ibu sudah berhasil menemukannya, pastilah perhatian mereka akan beralih.

    Nah, kami punya kabar gembira nih Bapak/Ibu, sebagai solusi dari ke semua hal di atas, kami ada kelas khusus “MENEMUKAN DAN MENGOPTIMALKAN MINAT, BAKAT DAN POTENSI UNGGUL ANAK SEMENJAK DINI” sehingga mereka bisa sukses dan bahagia di usia muda mereka, yang bisa Anda dapatkan di platform e-learning kami.

    Silahkan click link berikut untuk mempelajarinya secara lebih mendetail

  • KAPAN SEBAIKNYA MEMBERIKAN GADGET PADA ANAK?

    KAPAN SEBAIKNYA MEMBERIKAN GADGET PADA ANAK?

    Sebelum kita membahas tentang hal di atas, saya mau membahas dulu tentang psikologi perkembangan manusia.

    • Sewaktu anak kita berusia 0-5 tahun, anak harus dekat dengan ibunya, untuk belajar tentang kelemahlembutan, kasih sayang, kesabaran, dan lainnya.
    • Sewaktu anak kita berusia 6-12 tahun, anak harus dekat dengan ayahnya, untuk belajar tentang kerja keras, tanggung jawab, arti dari kata tidak pernah menyerah, mempunyai tujuan hidup, dan lainnya.
    • Sewaktu anak kita berusia 13-18 tahun, anak harus dekat dengan teman-temannya dan gurunya, karena siapa teman-temannya dan siapa gurunya di tahap ini akan menentukan siapa mereka di tahapan selanjutnya.
    • Sewaktu anak kita berusia 18-25 tahun, anak harus dekat pacar atau pasangannya, karena siapa pacarnya di tahap ini akan menentukan siapa mereka di tahapan selanjutnya.

    Kenapa saya membahas psikologi perkembangan manusia ini? Karena saat ini, banyak anak-anak yang lebih dekat dengan gadgetnya semenjak mereka balita bahkan dari batita. Semua yang mereka pelajari yang seharusnya dari orangtua mereka terlebih dahulu sebagai pondasi dari tahapan-tahapan di masa depan mereka kelak, malahan diambil alih oleh gadget mereka masing-masing. Oleh karena itulah, banyak orangtua yang sudah tidak lagi didengarkan oleh anak-anak mereka setiap kali memberikan nilai-nilai yang berguna untuk hidup mereka, dan lebih parahnya lagi, mereka bisa sambil lalu mendengarkan petuah orangtuanya tetapi mata dan tangannya tetap memegang gadget. Oleh karena itulah, ada baiknya jika kita semua sebagai orangtua mulai mengambil alih peran kita sebagai ibu dan ayah mereka sesuai dengan tahapan perkembangan diatas, tetapi bukan berarti pada saat anak kita berusia 0-5 tahun, ayah tidak perlu hadir, dan demikian pula dengan tahapan selanjutnya, mereka tetap membutuhkan sosok ayah dan ibu dalam kehidupan mereka. 

    Kembali lagi ke laptop, kapan sebaiknya memberikan gadget pada anak? Jawabannya adalah ketika mereka sudah SIAP untuk memfilter semua informasi yang masuk ke dalam dunia mereka melalui gadget ini dan sudah tahu mana yang benar dan yang mana yang salah, yaitu pada saat mereka menginjak usia 14 tahun, karena di usia inilah mereka sudah masuk ke dalam tahapan pemikiran yang kritis asalkan mereka mengikuti tahapan psikologi perkembangan manusia yang sudah saya ceritakan diatas.

  • ANAK KETAGIHAN GADGET SALAH SIAPA?

    ANAK KETAGIHAN GADGET SALAH SIAPA?

    Sebetulnya ini sangat sensitif dan tidak akan ada habisnya untuk dibahas, karena ujung-ujungnya saling melempar kesalahan antara papa dan mama, orangtua dengan opa-oma, opa-oma dengan teman-temannya.

    Nah loh kok teman-teman opa-omanya juga diikutkan dalam hal ini?

    Ok ok ok, saya mau bertanya kepada Anda semuanya, siap-siap dijawab ya, yuk kita mulai…

    Siapa yang pertama kali memberikan mereka gadget pada saat mereka rewel tidak mau makan?

    Siapa yang pertama kali memberikan mereka gadget setiap kali mereka banyak bertanya pada saat kita sedang bekerja?

    Siapa yang pertama kali memberikan mereka gadget setiap kali mereka tidak bisa duduk dengan tenang pada saat di mobil?

    Siapa yang pertama kali memberikan mereka gadget setiap kali mereka menangis dan ngambek?

    Siapa yang pertama kali memberikan mereka gadget setiap kali mereka bilang bosan nggak ada kerjaan?

    Kalau ada lagi yang menambahkan, silahkan comment di bawah ya!

    Apalagi jika opa dan oma tinggal serumah sama kita, atau kita menitipkan anak-anak kita di rumah opa dan oma karena kita harus bekerja, semuanya bisa jadi tambah kacau. Entah mengapa ayah dan ibu kita pada saat membesarkan kita, mereka bisa menjadi orang yang tegas dan penuh dengan disiplin dan wibawa, tapi entah mengapa pada saat mereka menjadi opa dan oma, mereka menjadi orang yang penuh dengan toleransi dan cenderung menuruti apapun permintaan cucunya, meskipun kita sebagai orangtuanya sudah berulang kali melarang anak kita untuk melakukannya. Yang bernasib kurang lebih sama, silahkan comment di bawah ya!

    Jadi jika saat ini mereka sangat ketergantungan dengan gadget, apakah ini semua murni kesalahan mereka saja? Atau apakah kita juga punya andil terhadap tantangan ini?

    Pertanyaan saya diatas bukan untuk mencari siapa yang salah tetapi apa yang mesti kita lakukan untuk sama-sama mencari solusinya. Saya cuma mau meminta Anda semua untuk berhenti saling menyalahkan, karena nasi sudah menjadi bubur, tinggal kita tambahin kecap dan kacang hehehehe…

    Saya meminta Anda untuk tidak lagi fokus di masa lalu, karena kita tidak akan pernah bisa merubah masa lalu, yang hanya bisa kita lakukan adalah merubah hari ini untuk bisa merubah masa depan kita. Masuk akal kan ya?

    Yuk, kita semua duduk sama-sama antara ayah, ibu, opa, oma, suster, dan pihak-pihak lain yang ikut dalam mendidik anak-anak kita untuk membuat sebuah kesepakatan dan peraturan yang jelas dalam mendidik anak-anak kita terutama dalam hal penggunaan gadget.

    Sebenarnya saya sudah pernah membahas tentang peraturan dalam penggunaan gadget ini, tapi saya akan ulangi lagi hal yang mendasar yaitu sebaiknya orangtua mengetahui panduan screentime berdasarkan usia.

    Berikut informasi yang dikutip dari Organisasi Kesehatan Dunia WHO.

    • < 18 bulan, sebaiknya tidak sama sekali
    • 18–24 bulan, kurang dari 1 jam, tetapi tidak disarankan
    • 3–5 tahun, tidak boleh lebih dari 1 jam dan harus dalam pengawasan
    • 6–10 tahun, diperbolehkan maksimal 1–1,5 jam
    • 11–13 tahun, tidak boleh lebih dari 2 jam 

    Jika ada yang mau ditanyakan atau mau dibahas di artikel selanjutnya, silahkan comment di bawah yah, kami akan membahasnya dalam artikel selanjutnya

  • ORANGTUA WAJIB TAHU : TAHAPAN ANAK KECANDUAN GADGET!

    ORANGTUA WAJIB TAHU : TAHAPAN ANAK KECANDUAN GADGET!

    Baca artikel sebelumnya  : CIRI-CIRI ANAK YANG SUDAH MASUK KE DALAM TAHAP KECANDUAN GADGET

    Apakah Bapak/Ibu sudah merasa anaknya terlalu ‘attached’ dengan gadgetnya? Nah kalau begitu, jangan sampai anak kita masuk ke dalam tahap kecanduan gadget. Kalau anak kita masih bisa membagi waktunya dengan baik antara main gadget dengan aktivitas lainnya seperti makan, mandi, sekolah, dan membuat PR, berarti anak Anda masih dalam tahapan normal. Tapi jangan sampai juga anak-anak kita kebablasan, karena kalau kita biarkan, lama kelamaan anak kita akan masuk ke tahap selanjutnya, dimana kami sudah sering meng-coaching anak-anak yang sudah kecanduan gadget ini. Dan percayalah Bapak/Ibu, mencegah jauh lebih baik dan lebih mudah daripada mengobati. Jadi jangan sampai kebablasan ya…

    4 Tahapan Anak Kecanduan Gadget :

    1. Biasa
      Di tahapan ini anak-anak kita belum terpapar dengan teknologi gadget, karena orangtuanya juga belum mengenalkan teknologi ini kepada anak-anaknya. Dan ini juga berlaku kepada anak-anak dari Steve Jobs dan anak-anak dari Bill Gates dan hal ini sudah sangat jarang sekali kita temui di anak-anak Indonesia, ya kan?

      Biasanya anak-anak di Indonesia sudah terpapar teknologi gadget ini pada saat umur balita bahkan batita. Sebagai informasi tambahan, jika mereka sudah terpapar dari mereka balita, hal ini akan menjadi sangat menantang pada saat mereka SD nanti.

    2. Normal
      Di tahapan ini, anak-anak kita sudah terpapar dengan teknologi gadget, tetapi masih dalam batas wajar/normal dimana mereka masih bisa membagi waktu mereka dengan baik antara gadget dengan aktivitas lainnya. Dan jika kita meminta mereka untuk menaruh gadgetnya, mereka akan langsung melakukannya tanpa harus memasang muka cemberut dan tantrum.
    3. Ketagihan
      Di tahapan ini, anak-anak kita sudah semakin ter-attached dengan gadgetnya, dimana mulai dari membuka mata di pagi hari sampai menutup mata di malam hari, gadgetnya selalu ada dalam genggaman mereka. Dan mereka sangat sering melihat ke gadget mereka seperti bermain game dan social media.

      Jika orangtua meminta mereka untuk melakukan aktivitas lainnya, mereka akan melakukan ‘gapatar’ atau gerakan apa-apa ntar hehehehe…

    4. Kecanduan
      Di tahapan ini, anak-anak kita sudah mulai tidak bisa membagi waktunya dengan baik, mereka baru akan tidur jam 12 atau jam 2 dini hari, sehingga mereka akan susah untuk bangun pagi, dan pada akhirnya mereka tidak bisa berkonsentrasi di sekolah dan banyak dari mereka yang pada akhirnya ketiduran di kelas dan mereka sering menyalahkan gurunya yang tidak bisa mengajar sehingga mereka ngantuk.
    5. Kecanduan Akut
      Di tahapan ini, anak-anak kita sudah seperti kalong, dimana siang menjadi malam, malam menjadi siang, dan mereka sudah mogok sekolah dan menolak untuk melakukan aktivitas lainnya, hanya mau bermain game dan gadget.

      Setiap kali orangtua mereka meminta mereka untuk berhenti bermain game, mereka akan mengamuk dan membanting-banting barang dan bahkan ada yang sudah berani memukul orangtuanya karena tidak diijinkan untuk bermain gadgetnya. Hal ini sudah sama seperti orang yang lagi ‘sakaw’ atau kecanduan narkoba, apapun akan dilakukannya untuk bisa mendapatkan apa yang dimau.

    Nah Bapak/Ibu, dari narasi diatas coba cek, anak Anda ada di tahapan nomor berapa. Dan jika ada yang mau ditanyakan, tolong tulis di comment ya!

  • 10 Ciri-Ciri Anak Kecanduan Gadget

    10 Ciri-Ciri Anak Kecanduan Gadget

    Gadget saat ini sudah menjadi kebutuhan untuk semua orang di dunia ini, tapi jangan sampai anak kita yang yang dikuasai oleh gadget. Berikut adalah 10 ciri-ciri anak yang sudah masuk ke dalam tahap kecanduan gadget, jangan sampai anak Anda masuk ke dalam tahap ini, karena mencegah jauh lebih baik daripada mengobati.

    1. Anak-anak kita sudah tidak lagi mau bersosialisasi dengan dunia luar selain gadget, anak kita juga sudah tidak lagi mau pergi dengan orangtua atau berkumpul bersama dengan orangtua dan saudara-saudaranya, lebih memilih di kamar dan bermain game/gadget.

    2. Anak bermain gadget selama 8-10 jam perhari.

    3. Anak akan kurang fokus saat diajak berbicara ataupun saat di sekolah.

    4. Anak kita juga sudah mulai lupa dan malas untuk mandi, makan, dan lain-lain dan banyak dari mereka yang sudah masuk ke dalam tahap lanjutan, yaitu mempunyai badan yang sangat kurus karena sudah tidak tertarik untuk makan.

    5. Anak mudah emosi dan suka membanting barang-barang sambil berkata kasar apalagi pada saat kalah dalam game.

    6. Anak sudah mulai mogok sekolah.

    7. Jam tidur berkurang karena anak terpapar layar gadget secara berlebihan.

      Pada kasus yang sudah ke tahap yang lebih parah, h
      idupnya seperti kelelawar, malam dijadikan siang, siang dijadikan malam.

    8. Merasa hidupnya ada di dalam game tersebut, dan dunia nyata bukanlah kehidupannya.

    9. Sering menunda pekerjaan, biasanya terjadi pada anak yang sudah lancar berkomunikasi, anak akan lebih memilih bermain gadget ketimbang menyelesaikan tanggung jawabnya.

    10. Saat dilarang bermain gadget, anak cenderung marah, melawan, menangis, atau tantrum.

    Kalau ciri-ciri diatas belum terjadi kepada anak Anda, selamat! Anak Anda masih dalam batas wajar. Tapi jangan sampai anak kita masuk ke dalam tahap kecanduan, karena jika kita biarkan terus, mereka akan masuk ke dalam tahap diatas pada akhirnya.

    Untuk itu, sebaiknya orangtua mengetahui panduan screentime berdasarkan usia dikutip dari Organisasi Kesehatan Dunia WHO. (Baca artikel : Anak tidak diberi gadget….ntar jadi kuper donk?)

    Semoga bermanfaat!

     

    Salam Mantap,

    Rudy Ng
    Founder & Master Trainer Rudy Ng Academy
    www.RudyNgAcademy.com

  • 6 PENYEBAB ANAK KETAGIHAN GADGET!

    6 PENYEBAB ANAK KETAGIHAN GADGET!

    Banyak orangtua yang bertanya kepada saya dalam parenting seminar yang biasa kami adakan, “Kenapa sih anak saya bisa ketagihan gadget?

    Well, saya akan membahasnya disini juga, udah siap ya Bapak/Ibu? Yuk kita bahas!

    Pernahkah kita berpikir:

    • Kenapa mereka bisa begitu ketagihannya dengan gadget mereka?
    • Kenapa mereka bisa begitu setianya dengan gadget mereka?
    • Kenapa mereka bisa begitu membela gadget mereka dibandingkan apapun?
    • Kenapa mereka bisa lebih memilih gadget daripada makan, mandi dan belajar?

    Jawabannya adalah sangat simple Bapak/Ibu, dan ini adalah hasil dari research dan interview yang kami lakukan kepada anak-anak peserta didik kami dan inilah hasilnya…

    1. Anak kita merasa jauh lebih mudah untuk dipuji dan diterima di dunia gadget, dunia yang penuh dengan apresiasi. Begitu masuk gamenya, ada sambutan…

      Inilah pahlawan kita yang akan menyelamatkan dunia bla..bla..bla”.

      Harapan sudah dibangun, anak kita merasa bisa tampil sebagai pahlawan disini, tetapi di kehidupan nyata mereka? Mereka menganggap diri mereka sebagai total loser.

    2. Anak kita merasa jauh lebih mudah berprestasi di dunia game/gadget.

      Ada panduan dan tujuan yang jelas, ada misi, ada perlengkapan sesuai kebutuhan, tetapi di kehidupan nyata mereka?

      Orangtua hanya menyuruh mereka untuk berprestasi di sekolah, les, belajar yang rajin, tapi orangtua tidak pernah menjelaskan tujuannya untuk apa dan bagaimana caranya, tidak seperti di game, semua panduannya sangat jelas.

    3. Mereka bisa membuat apapun yang mereka inginkan dan bisa menghancurkan apapun yang mereka mau tanpa adanya konsekuensi seperti di dunia nyata.

    4. Jika berhasil melewati ujian dan naik level, dirayakan, dielu-elukan seperti pahlawan dan orang besar, tetapi di kehidupan nyata mereka?

      Mereka jarang diapresiasi dan dipuji, tetapi lebih sering diberikan teguran dan cercaan.

    5. Mereka merasa bisa menjadi ‘seseorang’ yang dihargai dengan sangat cepat. Jika mereka kalah, malah disemangatin, boleh mengulang, tidak ada caci maki dan hinaan bahkan tidak ada hukuman, tetapi di kehidupan nyata mereka?

      Kalau mereka gagal, maka orangtua akan mencaci maki dan menghina mereka dan mereka juga diberi hukuman.

    6. Jika tamat, maka akan ada kemeriahan. Apresiasinya lebih tinggi lagi. Puasnya saat tamat itu disini, ada apresiasi lebih, makanya mereka berusaha dengan sekuat tenaga untuk bermain sampai selesai.

    Oleh karena itulah, mereka merasa lebih mudah hidup di dunia game dan gadget daripada hidup di dunia nyata mereka. Makanya banyak anak yang sudah masuk ke dalam tahap kecanduan, mereka merasa hidup mereka ada di game, kehidupan nyata bukanlah kehidupan mereka.

    Yuk Bapak/Ibu semua, kita rebut kembali anak-anak kita dari cengkeraman dunia game dengan melakukan apa yang mereka mau seperti apa yang mereka dapatkan di dunia game.

    Jika ada yang mau ditambahkan atau ditanyakan, silahkan comment di bawah ya!

    Semoga bermanfaat!


    Salam Mantap,

    Rudy Ng

    Founder & Master Trainer Rudy Ng Academy

    www.RudyNgAcademy.com

  • ANAK TIDAK DIBERI GADGET…

    ANAK TIDAK DIBERI GADGET…

    Ya, benar, pasti jadi kuper, pasti anak kita tidak akan mengetahui tentang perkembangan game dan aplikasi social media yang saat ini lagi tenar. Tapi lebih baik mana, anak kita selalu ter-update yang pada akhirnya jadi kecanduan gadget & game atau mereka kuper?

    Tapi jangan salah tangkap dulu Bapak/Ibu, saya tidak selalu mengatakan jika penggunaan gadget itu selalu membawa dampak negatif, asalkan anak-anak kita TAHU BATASANNYA dan kita sebagai orangtua memberikan ‘RULES’ yang jelas tentang penggunaan gadget ini. Jadinya mereka menjadi anak-anak yang tetap ter-update tapi mereka tahu batasannya, kapan harus memegang gadget dan kapan harus melakukan aktivitas lainnya.

    Sampai disini bisa terima ya Bapak/Ibu?

    Saya juga pernah ditanya oleh salah satu peserta seminar yang saya bawakan untuk salah satu bank swasta terbesar, tentang hal ini. Untuk menjawabnya, saya mau menggunakan sebuah ilustrasi. Saya yakin Anda semua tahu Steve Jobs, Mark Zuckerberg, Bill Gates bukan? Mereka semua adalah orang-orang terkaya di dunia, dan mereka adalah produsen dari aplikasi dan juga gadget yang ada di dunia ini. Apakah Anda tahu jika mereka tidak memperbolehkan anak-anak mereka untuk bermain gadget sampai usia mereka 14 tahun? Ironis bukan? Mereka adalah alasan di balik kecanduan anak-anak kita terhadap gadget, tapi malah mereka tidak memperbolehkan anak-anaknya bermain gadget. Pertanyaannya adalah mengapa? Karena mereka tahu jika gadget akan membuat anak-anak mereka kecanduan dan pada akhirnya membuat anak-anak mereka tidak bisa hidup tanpanya. Oleh karena itulah, mereka lebih banyak mengajarkan anak-anak mereka nilai-nilai dalam hidup sebelum mereka dikenalkan dengan dunia gadget, sehingga mereka menjadi anak-anak yang sudah siap dalam mem-filter semua informasi yang masuk ke dalam dunia mereka lewat gadget.

    Kami sering sekali mendapatkan client dari orangtua yang anaknya sudah mengalami kecanduan game dan gadget sampai-sampai anak mereka mogok sekolah dan hanya mau diam di kamar dan bermain game dan gadget. Dan kasus ini semakin lama semakin banyak, dan semakin memprihatinkan. Tentunya untuk ‘mengobati’ anak-anak yang sudah masuk ke tahap kecanduan gadget akan jauh lebih menantang dan memakan waktu yang tidak sebentar dan membutuhkan penanganan khusus.

    Yahhh, saya sudah terlambat donk…saya sudah memberi anak saya gadget sedari dia balita, jadi saya harus bagaimana donk?

    Kalau nasi sudah menjadi bubur, ya mau bagaimana lagi kan? Yang penting adalah kita sebagai orangtua harus memberikan mereka batasan-batasan, sehingga mereka tidak kebablasan sehingga mereka kecanduan. Ingat Bapak/Ibu! Mencegah akan jauh lebih baik daripada mengobati. 

    Untuk itu, sebaiknya orangtua mengetahui panduan ‘screentime’ berdasarkan usia. Berikut informasi yang dikutip dari Organisasi Kesehatan Dunia WHO.

    • < 18 bulan, sebaiknya tidak sama sekali
    • 18–24 bulan, kurang dari 1 jam, tetapi tidak disarankan
    • 3–5 tahun, tidak boleh lebih dari 1 jam dan harus dalam pengawasan
    • 6–10 tahun, diperbolehkan maksimal 1–1,5 jam
    • 11–13 tahun, tidak boleh lebih dari 2 jam

    Semoga bermanfaat!


    Salam Mantap,

    Rudy Ng
    Founder & Master Trainer Rudy Ng Academy

    www.RudyNgAcademy.com